<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>penabulu.org  &#124;  Memacu Keberdayaan Masyarakat Sipil Indonesia</title>
	<atom:link href="http://penabulu.org/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://penabulu.org</link>
	<description>Memacu Keberdayaan Masyarakat Sipil Indonesia</description>
	<lastBuildDate>Thu, 17 May 2012 01:00:25 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	
		<item>
		<title>Memanfaatkan Sumber Daya Manusia</title>
		<link>http://penabulu.org/2012/05/memanfaatkan-sumber-daya-manusia/</link>
		<comments>http://penabulu.org/2012/05/memanfaatkan-sumber-daya-manusia/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 17 May 2012 01:00:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>penabulu.org</dc:creator>
				<category><![CDATA[Mobilisasi Sumberdaya]]></category>
		<category><![CDATA[Sumberdaya Manusia]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://penabulu.org/?p=3192</guid>
		<description><![CDATA[Sistem penilaian tradisional seringkali cenderung hanya melihat ke belakang pada periode 6 atau 12 bulan sebelumnya. Manajemen kinerja yang efektif selalu berorientasi ke depan, meninjau kembali kemajuan.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Mendapatkan orang-orang yang tepat dan mempekerjakan mereka dengan seefektif mungkin adalah masalah penting yang pertama-tama harus dipertimbangkan apabila sebuah perusahaan menginginkan semua kebutuhannya terpenuhi sebagaimana mestinya.</p>
<p>Setelah merekrut orang-orang terbaik, manajemen sumber daya manusia menghendaki agar orang-orang tersebut dimanfaatkan sebaik mungkin. Untuk melakukan itu manajer perlu melakukan penilaian, pengembangan, serta pelatihan dengan orientasi tujuan bersama dan perorangan, serta mengacu pada standar-standar yang selalu disesuaikan.</p>
<p>Lebih jauh lagi, tindakan diatas menuntut adanya pemeriksaan dan pemantauan kinerja, perbaikan standar-standar, fasilitas pendidikan, pelatihan serta penyuluhan yang kesemuanya itu ditujukan untuk memperbaiki kinerja sekaligus meningkatkannya.</p>
<p>Manajemen kinerja hendaknya berupa siklus atau perputaran yang dinamis dan berkelanjutan. Sistem penilaian tradisional seringkali cenderung hanya melihat ke belakang pada periode 6 atau 12 bulan sebelumnya. Manajemen kinerja yang efektif selalu berorientasi ke depan, meninjau kembali kemajuan, menilai kelompok baik secara perorangan maupun kolektif berdasarkan standar pengukuran mutu kinerja terbaik, mengidentifikasi apa yang perlu ditingkatkan serta apa yang menghalanginya, melatih dan mengembangkan sumber daya manusia yang mengacu pada tuntutan perubahan yang terjadi terus-menerus, menyusun kembali target-target dan mengatur arus informasi yang konstan.</p>
<p><em>Disarikan dari buku: Mengelola Sumber Daya Manusia dan Hubungan Karyawan.</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://penabulu.org/2012/05/memanfaatkan-sumber-daya-manusia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Menganalisa Data</title>
		<link>http://penabulu.org/2012/05/menganalisa-data/</link>
		<comments>http://penabulu.org/2012/05/menganalisa-data/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 16 May 2012 01:00:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>penabulu.org</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pemantauan dan Evaluasi]]></category>
		<category><![CDATA[Pengelolaan Proyek]]></category>
		<category><![CDATA[Penilaian Kinerja]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://penabulu.org/?p=3186</guid>
		<description><![CDATA[Analisis bukanlah sebuah prosedur gaib yang secara otomatis memberi Anda hasil-hasil yang jelas yang berisi kebenaran mutlak tentang proyek Anda. Analisis hanyalah sebuah alat yang dapat digunakan untuk menyarikan informasi dari data Anda.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Setelah data terkumpul, langkah selanjutnya adalah menganalisa data tersebut. Bila memungkinkan, seharusnya analisis dilakukan sambil mengumpulkan data dan sedekat mungkin dengan lapangan. Ada beberapa alasan untuk melakukan hal ini. Pertama, semakin dini Anda melakukan analisis, maka semakin kecil kemungkinan melupakan konteks dari data yang Anda kumpulkan. Kedua, seperti dalam semua bagian proyek, semakin banyak Anda melibatkan para pemangku kepentingan dalam analisis dan verifikasi data, maka akan semakin besar peluang bagi mereka untuk mengerti dan menggunakan hasilnya. Melakukan analisis pada saat proses pengumpulan data masih berlangsung memungkinkan membuat Anda melakukan <em>triangulasi</em> hasil Anda dan memeriksa silang bila perlu. Triangulasi dilaksanakan dengan menggunakan berbagai sumber, metode, atau anggota lapangan tim, untuk mengumpulkan data yang sama. Sewaktu memeriksa silang data Anda, semakin konsisten suatu data, semakin besar peluang bahwa data tersebut valid. Triangulasi khususnya penting ketika Anda menggunakan metode pemantauan kualitatif yang tidak menggunakan tehnik pengambilan sampel yang sangat teliti.</p>
<p>Analisis bukanlah sebuah prosedur gaib yang secara otomatis memberi Anda hasil-hasil yang jelas yang berisi kebenaran mutlak tentang proyek Anda. Analisis hanyalah sebuah alat yang dapat Anda gunakan untuk menyarikan informasi dari data Anda.</p>
<p><em>Disarikan dari buku: Ukuran Keberhasilan, Penulis: Richard Margoluis, Nick Salafsky.</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://penabulu.org/2012/05/menganalisa-data/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mendiagnosa Penolakan</title>
		<link>http://penabulu.org/2012/05/mendiagnosa-penolakan/</link>
		<comments>http://penabulu.org/2012/05/mendiagnosa-penolakan/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 15 May 2012 01:00:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>penabulu.org</dc:creator>
				<category><![CDATA[Mengawal Perubahan]]></category>
		<category><![CDATA[Sasaran dan Pendekatan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://penabulu.org/?p=3182</guid>
		<description><![CDATA[Upaya perubahan dalam suatu organisasi kerap kali terkendala oleh adanya penolakan dari orang-orang di dalam organisasi itu. Para manajer umumnya sadar betul akan kenyataan yang satu ini.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Upaya perubahan dalam suatu organisasi kerap kali terkendala oleh adanya penolakan dari orang-orang di dalam organisasi itu. Meskipun sudah banyak makan asam-garam, para manajer umumnya sadar betul akan kenyataan yang satu ini. Sungguh mengherankan, hanya sedikit waktunya sebelum melakukan perubahan organisasi perusahaannya untuk menilai/memperhitungkan secara sistematis siapa saja yang mungkin menjadi penghalang bagi gagasan perubahan itu serta atas alasan apa mereka menolaknya. Sebaliknya, dengan menggunakan pengalaman masa lalu sebagai batu penjuru, para manajer sering kali menerapkan seperangkat keyakinan sederhana-seperti pemikiran bahwa “para insinyur mungkin saja menolak perubahan karena mereka merasa diri mandiri dan menaruh curiga terhadap pihak manajemen.” Pendekatan picik ini bisa menimbulkan masalah yang serius. Karena begitu beragamnya cara individu dan kelompok dalam bereaksi terhadap perubahan, perhitungan/penaksiran yang lurus-lurus saja kerap kali tidak memperjelas masalah secara intuitif sehingga masih diperlukan pemikiran yang mendalam.</p>
<p>Tentu saja, semua orang yang terkena dampak perubahan akan mengalami sedikit kegalauan emosional. Bahkan perubahan yang tampaknya membawa dampak positif dan rasional pun mau tidak mau mengakibatkan suatu rasa kehilangan serta ketidakpastian. Meskipun demikian, berdasarkan sejumlah alasan yang berbeda, individu-individu atau kelompok dapat saja memberikan reaksi secara sangat berbeda terhadap perubahan mulai dari menolaknya secara pasif, mencoba menggembosinya secara agresif, hingga menerimanya dengan sepenuh hati.</p>
<p>Untuk mengantisipasi bentuk-bentuk penolakan yang mungkin terjadi, para manajer perlu menyadari empat alasan utama mengapa orang menolak perubahan. Keempat alasan tersebut adalah: (1) ketakutan akan kehilangan sesuatu yang berharga, (2) salah pengertian terhadap perubahan serta segala implikasinya, (3) keyakinan bahwa perubahan tidak akan membawa perbaikan bagi organisasinya, dan (4) toleransi yang rendah terhadap perubahan.</p>
<p><em>Disarikan dari buku: Kepemimpinan dan Perubahan, Penulis: John P. Kotter.</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://penabulu.org/2012/05/mendiagnosa-penolakan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Rancangan Terarah</title>
		<link>http://penabulu.org/2012/05/rancangan-terarah/</link>
		<comments>http://penabulu.org/2012/05/rancangan-terarah/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 14 May 2012 01:00:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>penabulu.org</dc:creator>
				<category><![CDATA[Program dan Kegiatan]]></category>
		<category><![CDATA[Sistem dan Mekanisme]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://penabulu.org/?p=3176</guid>
		<description><![CDATA[Rancangan terarah (RT) adalah tahap perencanaan dalam pendekatan Outcome mapping (OM). Selama tahap ini pihak pelaksana program atau Tim Pelaksana (TP) mendefinisikan tujuan yang ingin dicapai melalui program.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Rancangan terarah (RT) adalah tahap perencanaan dalam pendekatan Outcome mapping (OM). Selama tahap ini pihak pelaksana program atau Tim Pelaksana (TP) mendefinisikan tujuan yang ingin dicapai melalui program, memperjelas dan menyepakati perubahan-perubahan yang ingin didukung program.</p>
<p>Istilah Rancangan Terarah menunjukkan bahwa kerangka program dibuat dengan fokus pada upaya mendorong perubahan (perilaku) yang ingin dicapai, dan kegiatan-kegiatan dipilih secara sengaja untuk memaksimalkan efektivitas kontribusi program terhadap pencapaian tujuan. Namun, rancangan tersebut cukup fleksibel, sehingga dapat dimodifikasi jika perlu. Penyesuaian ini dilakukan agar tujuan program dapat tercapai dengan lebih efektif. Proses dialog adalah inti dari OM. Karenanya modifikasi selama proses penyusunan RT maupun setelah program berjalan harus dilakukan melalui proses dialog ini.</p>
<p>Rancangan Terarah terdiri atas tujuh langkah utama yang umumnya dilakukan secara berurutan. Setiap langkah berfokus pada aspek spesifik dari rancangan program dan akan membantu pelaksana program menjawab empat pertanyaan kunci yaitu: Mengapa?, Siapa?, Apa?, dan Bagaimana?. Tabel dibawah ini menjelaskan tujuh langkah utama tersebut dan pertanyaan kunci yang ingin dijawab melalui masing-masing langkah.</p>
<p align="center"><a href="http://penabulu.org/2012/05/rancangan-terarah/rancangan-terarah/" rel="attachment wp-att-3177"><img class="aligncenter size-full wp-image-3177" title="Rancangan Terarah" src="http://penabulu.org/wp-content/uploads/2012/05/Rancangan-Terarah.jpg" alt="" width="343" height="296" /></a>Pertanyaan-pertanyaan kunci untuk masing-masing tahapan Rancangan Terarah.</p>
<p>Proses pengembangan Rancangan Terarah hanya dapat dilakukan setelah tim pelaksana program memiliki gambaran mengenai tujuan akhir program dan arahan strateginya (cara-cara atau pendekatan yang akan digunakan untuk mencapai tujuan). Hal ini dimaksudkan agar isu utama yang akan digarap dan pendekatan yang akan digunakan menjadi jelas sehingga pengembangan Rancangan terarah dapat dilakukan dengan lancar.</p>
<p>Waktu yang dibutuhkan untuk mengembangkan RT sangat tergantung konteks dan ruang lingkup program. Umumnya, proses dimulai dengan lokakaarya Rancangan Terarah. Pengalaman menunjukkan, jika persiapan sudah dilakukan (Langkah 0), sebuah dokumen hasil proses Rancangan terarah yang baik dapat dihasilkan melalui lokakarya selama 4-5 hari.</p>
<p>Jika cakupan program sangat luas dan tidak mungkin melakukan lokakarya dalam 4-5 hari sekaligus, proses RT dapat dilakukan secara bertahap atau dalam kelompok terpisah-pisah. Dalam proses ini, hasil uatama yang diharapkan adalah masukan tentang perubahan-perubahan yang diharapkan terjadi pada berbagai tingkat dan berbagai aktor, yang terkait dalam upaya mencapai visi. Untuk mendapatkan hasil yang benar-benar bagus dan final, sebuah proses pengembangan RT bisa memakan waktu selama beberapa minggu sampai beberapa bulan. Karena banyak sekali keputusan-keputusan penting yang akan diambil selama proses pengembangan RT, sebaiknya perkirakan dan alokasikan waktu yang memadai untuk menyelesaikan semua proses dengan baik.</p>
<p>Jangan pernah berasumsi bahwa proses RT akan sepenuhnya selesai dalam lokakarya selama 5 hari! Hal yang perlu diutamakan adalah rancangan program harus dikembangkan, dipahami, dan dilakukan oleh semua stakeholder utama, yaitu; Tim Pelaksana (TP), Mitra Langsung (ML) program, dan kelompok atau warga yang menjadi penerima manfaat akhir program.</p>
<p>Selengkapnya dapat dilihat dan didownload di Unduh kategori <a href="../2012/05/2012/04/2012/04/2012/04/2012/04/2012/03/unduh/panduan/" target="_blank">Panduan</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://penabulu.org/2012/05/rancangan-terarah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Harmoni</title>
		<link>http://penabulu.org/2012/05/harmoni/</link>
		<comments>http://penabulu.org/2012/05/harmoni/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 12 May 2012 01:00:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>penabulu.org</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Perubahan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://penabulu.org/?p=2081</guid>
		<description><![CDATA[Jika digunakan sendirian, mereka bisa sungguh membosankan dan tidak berarti. Akan tetapi, jika bersama-sama, mereka dapat menciptakan sebuah masterpiece. Ada banyak yang dapat kita pelajari. Dari krayon-krayon di sebuah kotak.
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Beberapa warna hitam, beberapa putih, beberapa coklat, dan beberapa merah jambu.</p>
<p>Tapi semuanya bersama-sama hidup berdampingan dalam harmoni.</p>
<p>Beberapa sering kali digunakan, sementara yang lainnya menunggu giliran dengan tenang.</p>
<p>Akan tetapi, mereka semua mempunyai status yang sama dalam skema yang lebih besar.</p>
<p>Beberapa benar-benar tumpul dan satu atau dua adalah sebagian kecil yang mempunyai sisi yang tajam.</p>
<p>Akan tetapi, mereka semua mengetahui peran yang harus mereka penuhi.</p>
<p>Beberapa mempunyai nama yang cantik, dan beberapa mempunyai nama yang aneh.</p>
<p>Akan tetapi, masing-masing adalah benar-benar unik.</p>
<p>Jika digunakan sendirian, mereka bisa sungguh membosankan dan tidak berarti.</p>
<p>Akan tetapi, jika bersama-sama, mereka dapat menciptakan sebuah masterpiece.</p>
<p>Ada banyak yang dapat kita pelajari.</p>
<p>Dari krayon-krayon di sebuah kotak.</p>
<p style="text-align: left;" align="center"><em>Kita dapat menjadi individu, tetapi tetap menjadi bagian dari satu kesatuan besar.</em></p>
<p>Disarikan dari buku: Tales for Change, penulis: Margaret Parkins.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://penabulu.org/2012/05/harmoni/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Langkah-Iangkah Pengembangan Sistem Evaluasi</title>
		<link>http://penabulu.org/2012/05/langkah-iangkah-pengembangan-sistem-evaluasi/</link>
		<comments>http://penabulu.org/2012/05/langkah-iangkah-pengembangan-sistem-evaluasi/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 11 May 2012 01:11:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>penabulu.org</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pemantauan dan Evaluasi]]></category>
		<category><![CDATA[Pengelolaan Proyek]]></category>
		<category><![CDATA[Sistem dan Mekanisme]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://penabulu.org/?p=3171</guid>
		<description><![CDATA[Dalam rangka pelaksanaan yang menjadi barometer adalah tujuan program. Sedangkan monitoring yang terpenting adalah jalannya pelaksanaan program. Ini dilakukan melalui pemantauan kegiatan-kegiatan.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Secara umum, langkah-langkah yang harus ditempuh dalam setiap evaluasi adalah sama. Tetapi jenis informasi yang diperlukan maupun indikator-indikatornya akan berbeda sesuai dengan tujuan evaluasi. Dalam rangka pelaksanaan yang menjadi barometer adalah tujuan program. Sedangkan monitoring yang terpenting adalah jalannya pelaksanaan program. Ini dilakukan melalui pemantauan kegiatan-kegiatan. Ringkasnya, langkah-langkah yang harus ditempuh didalam evaluasi adalah sebagai berikut:</p>
<ol>
<li>Meninjau kembali dan mensistimatisir tujuan-tujuan dalam rencana kerja, menurut derajat pencapaian tujuan yang ingin dicapai. Hal ini dijabarkan dalam bentuk <em>output </em>dan dampak.</li>
<li>Menentukan kegiatan-kegiatan utama apa yang relevan dengan pencapaian tujuan.</li>
<li>Menentukan siapa-siapa yang memerlukan informasi, jenis-jenis informasi yang diperlukan serta tujuan dari evaluasi.</li>
<li>Menentukan indikator-indikator dari masing-masing <em>output </em>dan dampak serta ukuran-ukurannya.</li>
<li>Merencanakan bagaimana methode/cara untuk memperoleh data informasi yang diperlukan.</li>
<li>Melaksanakan pengumpulan informasi yang diperlukan.</li>
<li>Melakukan analisa berdasarkan informasi yang diperoleh.</li>
<li>Menyusun laporan serta rekomendasi.</li>
<li>Menyampaikan laporan dan rekomendasi dalam forum yang tepat dan membahasnya hingga menjadi salah satu kebijakan organisasi.</li>
</ol>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://penabulu.org/2012/05/langkah-iangkah-pengembangan-sistem-evaluasi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Menilai Kondisi Lokal</title>
		<link>http://penabulu.org/2012/05/menilai-kondisi-lokal/</link>
		<comments>http://penabulu.org/2012/05/menilai-kondisi-lokal/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 10 May 2012 01:16:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>penabulu.org</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pengelolaan Proyek]]></category>
		<category><![CDATA[Program dan Kegiatan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://penabulu.org/?p=3167</guid>
		<description><![CDATA[Ketika Anda menilai kondisi lokal, sebaiknya Anda berbicara dengan pemimpin masyarakat yang formal maupun informal. Pada saat yang sama janganlah mengabaikan penduduk yang biasanya tidak mempunyai "suara keras".]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sebelum berbicara dengan pemangku kepentingan lokal, pertama-tama Anda harus mempunyai ide yang cukup baik tentang apa yang ingin Anda bicarakan dengan mereka. Anda jangan mengajukan pertanyaan-pertanyaan dasar dan tidak relevan yang membuang waktu mereka dan membuat Anda tampak seperti tidak tahu apa-apa.</p>
<p>ltu sebabnya sedapat mungkin Anda menyiapkan diri, sehingga Anda dapat memusatkan perhatian dan jelas dalam percakapan Anda dengan pemangku kepentingan lokal. Diharapkan, melalui proses pembangunan konsep pertama Model Konseptual, sekarang Anda mempunyai ide yang lebih baik tentang apa yang menurut Anda sedang terjadi di lokasi proyek. Sekarang tibalah waktunya untuk melihat seberapa akurat hal tersebut merefleksikan realitas dan untuk mengubahnya agar sejalan dengan pandangan pemangku kepentingan lokal.</p>
<p>Bekerja dengan pemangku kepentingan lokal barangkali merupakan tingkatan yang paling kritis dalam pembentukan Model Konseptual Anda. Dalam tingkatan inilah Anda harus berkonsultasi dengan pemangku kepentingan lokal untuk memahami pandangan, pengetahuan, sikap dan perilaku mereka, sehingga Anda dapat memperbaiki dan menyempurnakan Model Konseptual Anda. Dalam tingkatan inilah Anda mengevaluasi keakuratan setiap informasi yang berhubungan dengan kondisi-kondisi sosial, hayati atau sumber daya alam yang mungkin telah Anda kumpulkan, sambil membangun konsep model Anda. Bila Anda gagal untuk mengambil langkah ini, dan beranggapan bahwa Anda mengetahui kenyataan di lokasi proyek tanpa berkonsultasi dan melibatkan pemangku kepentingan lokal, kemungkinan besar model Anda dapat kehilangan beberapa faktor kunci. Sungguh, keseluruhan model Anda mungkin dapat betul-betul salah dan menyesatkan.</p>
<p>Ketika Anda menilai kondisi lokal, sebaiknya Anda berbicara dengan pemimpin masyarakat yang formal maupun informal. Pada saat yang sama janganlah mengabaikan penduduk yang biasanya tidak mempunyai &#8220;suara keras&#8221; dalam masalah-masalah di masyarakat. Pastikan bahwa Anda berbicara kepada perempuan, anak-anak, orang tua, penduduk yang miskin, keluarga dengan banyak anak, dan para migran yang baru saja pindah. Wawasan mereka sama pentingnya dengan ide-ide para pemimpin mereka. Sering kelompok-kelompok pinggiran yang mendapat dampak paling besar dalam penggunaan atau konservasi sumber daya alam. Ketika Anda mengumpulkan informasi dari pemangku kepentingan lokal, penting untuk berbicara kepada cukup banyak orang sehingga Anda yakin bahwa informasi yang Anda kumpulkan mewakili keseluruhan masyarakat.</p>
<p><em>Disarikan dari buku: Ukuran Keberhasilan, Penulis: Richard Margoluis, Nick Salafsky.</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://penabulu.org/2012/05/menilai-kondisi-lokal/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Membuat Perubahan yang Tepat</title>
		<link>http://penabulu.org/2012/05/membuat-perubahan-yang-tepat/</link>
		<comments>http://penabulu.org/2012/05/membuat-perubahan-yang-tepat/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 09 May 2012 01:00:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>penabulu.org</dc:creator>
				<category><![CDATA[Mengawal Perubahan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://penabulu.org/?p=3164</guid>
		<description><![CDATA[Sebenarnya saat mengusahakan perubahan skala besar, perencanaan yang terbaik sekalipun tidaklah cukup. Yang dibutuhkan adalah sesuatu yang sangat berbeda.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Di dalam perubahan skala besar yang berhasil, tim pemandu yang berfungsi dengan baik menjawab semua pertanyaan yang dibutuhkan untuk menghasilkan arah perubahan. Perubahan apa yang kita butuhkan? Apa visi kita untuk organisasi yang baru? Apa yang tidak perlu dirubah? Apa cara terbaik untuk merealisasikan visi? Apa strategi perubahan yang tidak bisa kita terima karena berbahaya? Jawaban-jawaban bagus untuk pertanyaan-pertanyaan ini memosisikan organisasi untuk bisa melompat ke masa depan yang lebih baik.</p>
<p>Seringkali, tim pemandu tidak memiliki arah jelas atau membuat visi yang tidak jelas. Konsekuensinya bisa sangat merusak organisasi dan menyakitkan para karyawan.</p>
<p>Satu alasan mengapa orang-orang pandai tidak membuat arah perubahan atau membuat arah perubahan yang buruk adalah karena mereka sudah dididik bahwa “memetakan masa depan” berarti perencanaan dan penganggaran (<em>planning and budgeting</em>). Sebenarnya saat mengusahakan perubahan skala besar, perencanaan yang terbaik sekalipun tidaklah cukup. Yang dibutuhkan adalah sesuatu yang sangat berbeda.</p>
<p>Di dalam kasus-kasus perubahan skala besar yang berhasil, Anda akan menemukan empat elemen yang membantu mengarahkan aksi: anggaran, rencana, strategi, dan visi. Keempat elemen ini berbeda tapi sangat berhubungan, dan setiap elemen membutuhkan proses pengembangan yang berbeda.</p>
<p><em>Anggaran</em> adalah sisi finansial dari sebuah rencana. <em>Rencana</em> memberi spesifikasi dari setiap langkah dalam mengimplementasikan strategi. <em>Strategi</em> menunjukkan bagaimana mewujudklan visi. <em>Visi</em> menunjukkan keadaan akhir ke arah semua rencana dan strategi akan membawa Anda atau perusahaan Anda. Visi biasanya hanya memerlukan satu halaman dan bisa dideskripsikan dalam waktu singkat. Strategi mungkin membutuhkan sepuluh halaman dan membutuhkan diskusi. Satu buku catatan dan pengujian di dalam serangkaian pertemuan diperlukan dalam perencanaan. Anggaran bisa membutuhkan buku catatan lebih besar lagi dan menuntut lebih banyak pertemuan.</p>
<p><em>Disarikan dari buku: The Heart of Change, Penulis: John P. Kotter &amp; Dan S.Cohen.</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://penabulu.org/2012/05/membuat-perubahan-yang-tepat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Strategy and Initiative Management Office</title>
		<link>http://penabulu.org/2012/05/strategy-and-initiative-management-office/</link>
		<comments>http://penabulu.org/2012/05/strategy-and-initiative-management-office/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 08 May 2012 01:00:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>penabulu.org</dc:creator>
				<category><![CDATA[Mengawal Perubahan]]></category>
		<category><![CDATA[Rencana Strategis]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://penabulu.org/?p=3158</guid>
		<description><![CDATA[Terdapat kurang akuratnya persepsi yang menghinggapi banyak organisasi ketika sedang mengembangkan sistem pengelolaan strategi. Anggapan yang sering muncul adalah telah terbangunnya peta strategi, indikator kinerja, dan inisiatif strategis]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Mari kita lakukan suatu survei sederhana. Pilihlah karyawan secara acak, lalu ajukan pertanyaan berikut secara terpisah kepada mereka, unit organisasi mana yang memiliki peran untuk mengembangkan kompetensi karyawan. Jika 100 persen responden menjawab bahwa itu adalah peran dari unit Sumber Daya Manusia (SDM) atau <em>Human Resource Development</em> (HRD), hal tersebut adalah respons yang wajar. Kita ulangi lagi survei tersebut juga dengan memilih karyawan secara acak. Kali ini yang ditanyakan adalah unit organisasi mana yang memegang tugas untuk mengelola layanan data dan informasi? Jika seluruh responden menyampaikan tanggapan bahwa itu adalah tanggung jawab unit Teknologi Informasi (TI), respons semacam itu juga tidak mengherankan.</p>
<p>Lakukan survei sekali lagi dengan cara yang sama. Namun, sekarang pertanyaan yang diajukan adalah unit organisasi mana yang perlu memastikan keberlangsungan implementasi strategi. Respons yang diberikan dapat diperkirakan akan sangat beragam. Beberapa kemungkinan jawaban adalah unit SDM (karena kaitannya dengan isu kinerja), unit TI (karena terkait dengan <em>dashboard</em> kinerja) dan tentunya adalah unit Perencanaan Strategis (jika organisasi memiliki unit ini). Seandainya pun responden tidak dapat memberikan jawaban konkret karena ketidakpahaman terhadap pertanyaan itu sendiri (yakni tidak paham apa itu strategi, serta apa yang dimaksud dengan eksekusinya), hal ini pun merupakan tanggapan yang “wajar”.</p>
<p>Terdapat kurang akuratnya persepsi yang menghinggapi banyak organisasi ketika mereka sedang mengembangkan sistem pengelolaan strategi. Anggapan yang sering muncul pada fase ini adalah dengan telah terbangunnya peta strategi, indikator kinerja, dan inisiatif strategis, maka strategi akan bergulir dengan sendirinya. Ini sering diberi label sebagai fenomena <em>auto-pilot</em>. Begitu semua target sudah ditetapkan dan tombol <em>auto-pilot</em> ditekan (biasanya berupa acara <em>go-live, official launching</em>), organisasi akan selalu berada pada trayektori strategisnya tanpa membutuhkan upaya koordinasi lebih jauh. Berkaca dari pengalaman pendampingan yang telah GML jalani selama ini, untuk tetap dapat bertahan pada trayektori strategis tersebut, maka hal mutlak yang dibutuhkan adalah adanya suatu unit khusus yang bertugas memfasilitasi pembuatan strategi dan eksekusinya.</p>
<p>Ada korelasi yang tinggi antara adanya keberadaan unit semacam itu dengan kelanggenan implemantasi strategi. Studi yang dilakukan oleh GML pada tahun 2010 hingga 2011 terhadap 175 responden eksekutif dari berbagai organisasi di Indonesia menemukan fakta bahwa 62,5 persen responden menilai implementasi strategi di organisasi mereka belum berjalan dengan optimal. Menurut mereka, yang menjadi penyebab utama adalah ketiadaan unit khusus tersebut. Nama yang umumnya dilekatkan pada unit khusus ini adalah <em>Strategy and Initiative Management Office</em> (SIMO). Peran SIMO yang utama adalah sebagai penyelaras dan katalis. Sebagai penyelaras, SIMO menjalankan beberapa tugas, diantaranya menyelaraskan formulasi strategi dengan dinamika eksternal dan kapabilitas internal organisasi, melakukan penyelarasan strategi antara unit-unit organisasi dengan induknya, maupun diantara mereka sendiri. Peran sebagai katalis berwujud sebagai koordinator untuk memastikan bahwa proses <em>review</em> strategi berjalan baik pada jenjang organisasi maupun pada level unit organisasi. Mereka memang tidak akan langsung memiliki akuntabilitas terhadap hasil pelaksanaan tersebut, tetapi harus memastikan bahwa proses <em>review</em> tersebut dijalankan pada seluruh jenjang. Singkatnya, mereka memastikan bahwa siklus <em>Plan-Do-Check-Action</em> dalam konteks eksekusi strategi berlangsung secara berkesinambungan.</p>
<p>Jadi, jika dianalogikan sebagai suatu senandung, strategi akan mengalun dengan merdu hanya apabila ditunjang dengan keberadaan SIMO.</p>
<p>Oleh: Prima A Biromo</p>
<p><em>Sumber: KOMPAS, Sabtu, 5 Mei 2012, Halaman: 33.</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://penabulu.org/2012/05/strategy-and-initiative-management-office/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Metode yang Dapat Digunakan Dalam Langkah Nol?</title>
		<link>http://penabulu.org/2012/05/metode-yang-dapat-digunakan-dalam-langkah-nol/</link>
		<comments>http://penabulu.org/2012/05/metode-yang-dapat-digunakan-dalam-langkah-nol/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 07 May 2012 01:00:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>penabulu.org</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pengelolaan Proyek]]></category>
		<category><![CDATA[Program dan Kegiatan]]></category>
		<category><![CDATA[Sasaran dan Pendekatan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://penabulu.org/?p=3154</guid>
		<description><![CDATA[Langkah Nol pada umumnya dikoordinasi oleh seorang konsultan atau pelaksana program, namun perlu melibatkan berbagai pihak/ aktor-aktor yang akan terlibat dalam program. ]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ada banyak metode yang tersedia dan dapat digunakan untuk mendukung Langkah Nol. Beberapa di antaranya adalah: <em>interview</em>, survei, diskusi kelompok terfokus (<em>FGD </em>- <em>focus group discussion)</em>, analisis para pemangku kepentingan (<em>stakeholder</em>), pemetaan sosial, analisis jejaring sosial, <em>sustainable livelihood analysis</em>, <em>participatory rural appraisal </em>(PRAs), <em>appreciative inquiry </em>(AI), perencanaan strategis, ddl. Setiap pelaksana program perlu memilih metode yang paling tepat sesuai konteks programnya.</p>
<p><strong>Siapa yang terlibat?</strong></p>
<p>Langkah Nol pada umumnya dikoordinasi oleh seorang konsultan atau pelaksana program, namun perlu melibatkan berbagai pihak/ aktor-aktor yang akan terlibat dalam program. Pendekatan partisipatif yang melibatkan berbagai pihak termasuk kelompok yang selama</p>
<p>ini cenderung tersisih dalam proses perencanaan pembangunan akan lebih menjamin keberhasilan program, karena program lebih tepat sasaran dan motivasi aktor-aktor untuk mendukung program lebih tinggi. Di samping itu, melalui partisipasinya di dalam Langkah Nol, para aktor yang akan terlibat akan membentuk pemahaman bersama tentang isu-isu dan menciptakan rasa memiliki terhadap berbagai kemungkinan untuk pemecahan masalah dan intervensi yang akan dilakukan.</p>
<p><strong>Kapan Langkah Nol dilakukan?</strong></p>
<p>Langkah Nol dilakukan sebelum tahap Rancangan Terarah dilakukan. Waktu yang dibutuhkan sangat bervariasi tergantung pada jenis dan cakupan program yang akan dilakukan. Langkah Nol dapat dilakukan melalui lokakarya selama beberapa hari yang dihadiri perwakilan dari berbagai pihak. Namun pada umumnya diperlukan beberapa minggu, jika pelaksana program melakukannya melalui proses penjajakan langsung ke lapangan.</p>
<p>Selengkapnya dapat dilihat dan didownload di Unduh kategori <a href="../2012/04/2012/04/2012/04/2012/04/2012/03/unduh/panduan/" target="_blank">Panduan</a>.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://penabulu.org/2012/05/metode-yang-dapat-digunakan-dalam-langkah-nol/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

