Profil

Yayasan Penabulu digagas serta mulai dikembangkan sejak akhir tahun 2002, dan seluruh kegiatannya pada awalnya didedikasikan bagi upaya perbaikan kapasitas keuangan organisasi nirlaba dan organisasi lain yang melayani kepentingan publik. Pada tahun-tahun itu, tuntutan transparansi dan akuntabilitas mendapatkan momentumnya. Donor makin gencar mengadakan pelatihan keuangan dan menuntut perbaikan sajian laporan keuangan serta memaksa segera dilakukannya audit proyek dan audit lembaga.

Tuntutan yang bersifat jangka pendek dan tergesa-gesa tersebut kini mulai terkoreksi dengan munculnya dorongan baru yang bersifat lebih struktural. Perbaikan sistem dan mekanisme, penggunaan accounting software yang sesuai, pendampingan one-to-one secara intensif serta pengembangan literasi dan media berbagi secara on-line.

Penabulu telah tumbuh dan menyesuaikan dirinya bersamaan dengan perkembangan dinamika organisasi masyarakat sipil Indonesia pada periode transisi setelah Orde Baru runtuh. Periode transisi yang kemudian diwarnai tumbuhnya ‘seribu tunas’, tumbuhnya organisasi-organisasi masyarakat sipil baru, dengan keberagaman posisi, bentuk dan issu.

Diam-diam, kini, musim semi mulai berakhir. Peta dan kondisi global dalam waktu yang teramat singkat telah begitu berubah. Indonesia bukan lagi urutan teratas dalam daftar sasaran pada lembaga donor. Kekuatan sumber daya donor juga mulai harus dikalkulasi ulang. Donor klasik mulai mengurangi anggaran bantuannya sembari menggeser fokus areanya ke wilayah Indo-Cina, Amerika Selatan, sebagian Eropa Timur, negara Commonwealth di benua Afrika dan yang terbaru: wilayah Arab serta Timur Tengah. Donor kini fokus pada issu-issu payung, semacam REDD+, HIV/AIDS, LGBT, ICT serta paket issu terbaru kini adalah: Green Economic. Krisis ekonomi AS dan negara-negara Eropa juga diyakini akan turut menyumbangkan ketidakpastian pola bantuan di masa depan.

Berbagai situasi tersebut merupakan stimulus perubahan. Apakah tumbuhnya ‘sejuta tunas’ yang baru lainnya akan terhambat? Tidak, pasti.

Dukungan sumber daya bersumberkan dana CSR, atau dukungan swadaya komunitas serta hasil penggalangan dana publik akan menjadi celah alternatif. Tunas-tunas baru tetap akan tumbuh, bersama dimulainya perkembangan pola musim baru. Pola di mana organisasi masyarakat akan memiliki akar dan menjadi bagian masyarakat itu sendiri. Tunas-tunas baru yang seharusnya beragam dan mandiri. Kemandirian masyarakat tidak bisa diciptakan, seluruhnya harus dimulai dengan niat dan rasa dalam diri sendiri.

Akuntabilitas dan transparansi organisasi,

berpondasikan keseluruhan sendi tata kelola organisasi, tidak hanya ‘soal keuangan’ belaka.

Akuntabilitas dan transparansi tetap akan menjadi kunci perolehan kepercayaan publik. Kepercayaan publik-lah yang akan menjadi tiang penopang keberlanjutan organisasi. Jika publik telah meletakkan kepercayaan dan harapannya, serta merasakan manfaat penuh dari aktivitas organisasi, maka organisasi tersebut menjadi layak untuk dipertahankan oleh masyarakat itu sendiri.

Akuntabilitas organisasi, ternyata tidak melulu hanya bicara soal keuangan. Akuntabilitas organisasi dibangun berpondasikan masing-masing sendi dalam tata kelola organisasi. Proses pendirian, perencanaan, penggalangan sumber daya, pelaporan dan pengukuran akan ikut terlibat menentukan. Sekali lagi, akuntabilitas dan transparansi bukan hanya tergantung pada aspek keuangan belaka.


penabulu.org hadir untuk menemani pertumbuhan. Kami membayangkan ribuan organisasi baru akan tumbuh dalam tahun-tahun perubahan ke depan. Kami mengidamkan masyarakat sipil yang jujur dan punya harga diri. Kami percaya bahwa organisasi masyarakat sipil Indonesia yang akan mampu bertahan adalah organisasi yang memiliki kompetensi dan konstituen serta mampu menjaga konsistensi determinasi. Inilah mimpi dan visi kami.

Misi kami antara lain adalah: mengembangkan literasi terbuka yang mendukung perbaikan tata kelola organisasi masyarakat sipil Indonesia, mengembangkan database sistemik atas informasi dukungan sumber daya di Indonesia, dan database model kegiatan inovatif yang berhasil dibangun berbasis dukungan sumber daya tersebut, riset dan publikasi terkait dengan perkembangan sektor nirlaba di Indonesia, dan memfasilitasi seminar, pelatihan dan workshop peningkatan tata kelola organisasi di beberapa kota simpul di Indonesia.